Keimanan dan Ketaqwaan

19.32 0 Comments



Agama ada yang bersifat primitif. Agama – agama yang terdapat dalam masyarakat primitif adalah
· Dinamisme (kepercayaan pada kekuatan ghaib)
· Animisme (tiap – tiap benda memiliki roh)
· Politeisme (kepercayaan pada dewa - dewa)
· Henoteisme (satu tuhan untuk satu bangsa)
Dalam masyarakat yang sudah maju agama yang dianut adalah agama monoteisme, Agama tauhid. dasar dari agama tauhid adalah Tuhan Satu, Tuhan Maha Esa. Disinilah islam mengambil posisi sebagai agama tauhid yang hanya mengakui satu Tuhan yaitu Allah SWT, yang terumuskan dalam kalimat Tauhid ‘La ilaha illallah’. Dan pengembangan dari keyakinan atau keimanan dari kalimat Tauhid sering disebut dengan Aqidah.
Pokok – pokok  keyakinan islam yang terangkum dalam Rukun Iman yaitu :
a) Keyakinan kepada Allah
b) Keyakinan pada Malaikat – malaikat
c) Keyakinan pada kitab – kitab suci
d) Keyakinan pada Nabi dan Rasul Allah
e) Keyakinan kepada Hari Akhir
f) Keyakinan pada qadha dan qadar

a. Keyakinan kepada Allah percaya dengan sepenuh
Beriman kepada Allah berarti :
Yakin dan percaya dengan sepenuh hati akan adanya Allah, keesaan-Nya serta sifat – sifat-Nya yang sempurna. Dengan mengikuti petunjuk/tuntunan Allah san Rasul-Nya yang tersebut didalam Al-Quran dan Hadist Nabi. Menurut akidah islam konsepsi tentang Ketuhanan Yang Maha Esa disebut tauhid. ilmu tauhid adalah ilmu tentang Kemaha Esaan Tuhan (Osman Raliby, 1980:8).
       
Menurut Osman Raliby ajaran islam tentang Kemaha Esaan Tuhan sebagai berikut :
- Allah Maha Esa dalam Zat-Nya
- Allah Masa Esa dalam sifat-sifat-Nya

Dalam Al-Quran disebutkan sifat-sifat Allah sebanyak 99 yang dikenal juga sebagai al-Asma’ul Husna.
Dalam ilmu Tauhid, dijelaskan dua puluh sifat Allah yang disebut dengan Sifat Dua Puluh.
Sebagai mahasiswa, yang perlu diketahui lebih baik adalah bahwa Allah, Tuhan yang Maha Esa itu bersifat hidup, berkuasa, berkehendak.

Allah Maha Esa dalam perbuatan-perbuatan-Nya
Allah Maha Esa dalam wujud-Nya
Allah Maha Esa dalam menerima ibadah
Allah Maha Esa dalam menerima hajat dan hasrat manusia
Allah Maha Esa dalam memberi hukum

b. Keyakinan Pada Para Malaikat
Malaikat adalah makhluk ghaib, tidak dapat ditangkap oleh pancaindera manusia, maka yang dituntut dari seorang yang beriman kepada Allah hanya wajib adanya. Di dlam Al-Quran diberikan keterangan berupa tugas dan sifat malaikat antara lain, selalu taat dan patuh kepada Allah (At-Tahrim;6). Para malaikat mempunyai tugas tertentu di alam ghaib dan di dunia. Tugas malaikat di dunia antara lain:
· Menyampaikan wahyu Allah kepada manusia melalui Rasul-Nya
· Mengkukuhkan hati orang-orang beriman
· Memberi pertolongan kepada manusia
· Mendorong manusia untuk berbat baik
· Mencatat perbuatan manusia
· Melaksanakan hukum Allah


c. Keyakinan Pada Kitab – Kitab Suci
Keyakinan kepada kitab suci merupakan rukun iman ketiga. Kitab suci itu memuat wahyu Allah. Perkataan kitab yang berasal dari kata kerja kataba (artinya ia telah menulis) memuat wahyu Allah.Wahyu yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW sebagai Rasul-Nya untuk disampaikan kepada umat manusia, semua terekam dengan baik di dalam Al-Qur’an, kitab suci umat Islam. Al-Qur’an meyebut beberapa kitab suci misalnya Zabur yang diturunkan melalui Nabi Daud AS., Taurat melalui Nabi Musa AS., Injil melalui Nabi Isa AS., dan Al-Qur’an melalui Nabi Muhammad SAW sebagai Rasul-Nya. Namun, dalam perjalanan sejarah kecuali Al-Qur’an, isi kitab-kitab suci itu telah berubah, tidak lagi memuat firman-firman Allah yang asli secara utuh sebagaimana disampaikan Malaikat Jibril kepada para Rasul dahulu. Al-Qur’an diturunkan selama 22 tahun 2 bulan 22 hari. Mula-mula di kota Mekkah dan kemudian kota Madinah. Secara garis besar Al-Qur’an berisi atau memuat :
a. Aqidah
b. Syariah, baik ibadah maupun muamalah
c. Akhlak dengan semua ruang lingkupnya
d. Kisah-kisah umat manusia di masa lampau
e. Berita-berita tentang zaman yang akan datang
f. Benih dan prinsip-prinsip ilmu pengetahuan, dasar-dasar hukum yang berlaku bagi alam semesta     termasuk manusia di dalamnya. (Muhammad Daud Ali; 1997:217)




d. Keyakinan Kepada Nabi dan Rasul
Antara Nabi dan Rasul terdapat perbedaan tugas utama. Para Nabi menerima tuntunan atau wahyu dari Allah, akan tetapi tidak diwajibkan untuk menyampaikan kepada umat manusia. Sedangkan Rasul adalah utusan Allah yang menerima wahyu dan wajib menyampaikan wahyu tersebut kepada umat manusia. Oleh karena itu seorang Rasul pastilah Nabi, tetapi seorang Nabi belum tentu seorang Rasul.
Jumlah para Rasul yang pernah diutus oleh Allah SWT. untuk memimpin manusia adalah 313 orang, sedangkan jumlah para Nabi 124.000 orang. Sedangkan dalam Al-Qur’an ada 25 orang Nabi atau Rasul. Setelah Nabi dan Rasul yang cukup banyak di atas diutus Allah untuk membimbning dan memimpin masing-masing umatnya di muka bumi ini, Allah SWT. mengutus Nabi Muhammad SAW sebagai Nabi dan Rasul yang terakhir dan penutup.
Firman Allah SWT dalam QS. Al-Ahzab ayat 40 yang artinya : “Muhammad SAW itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah seorang Rasul Allah dan penutup nabi-nabi. Dan adalah Allah mengetahui atas segala sesuatu”.
Nabi Muhammad SAW adalah Rasul penutup (khatamin nabiyyin). Akhlaknya baik, terlukiskan dengan kata-kata :

a. Shidiq (benar)
b. Amanah (dapat dipercaya)
c. Tabligh (menyampaikan)
d. Fathanah (cerdas)

e. Keyakinan Kepada Hari Akhir
Keyakinan ini sangat penting dalam rangkaian kesatuan rukun iman lainnya, sebab tanpa mempercayai hari akhirat sama halnya orang yang tidak mempercayai Agama Islam, walaupun orang itu menyatakan beriman kepada Allah. Dalam banyak ayat maupun hadits Nabi, beriman kepada hari akhir hampir selalu dirangkaikan dengan beriman kepada Allah SWT. sebagaimana yang terdapat dalam QS. An-Nisa ayat 59 yang artinya : “Jika kalian beriman kepada Allah dan beriman kepada hari akhir”. Hari kiamat dimulai dengan rusaknya alam ini. Setiap manusia yang hidup di alam ini akan mati, dan bumi akan diganti, bukan bumi dan langit yang sekarang ini. Allah yang membangkitkan semua manusia dan mengembalikan mereka pada kehidupan kedua.

f. Keyakinan Kepada Qadha dan Qadhar
Beriman kepada qadha dan qadhar adalah rukun iman yang ke enam atau rukun iman yang terakhir. Qadha dan qadhar disebut juga dengan takdir. Menurut Al-Qur’an, qadha berarti : hukum (QS. An-Nisa ayat 65), perintah (QS. Al-Isra ayat 23), memberitakan (QS. Al-Isra ayat 24), menghendaki (QS. Ali Imran ayat 47), menjadikan (QS. Fushilat ayat 12). Kemudian arti qadhar dalam Al-Qur’an dapat kita memahaminya bahwa qadhar itu adalah suatu peraturan umum yang telah diciptakan oleh Allah SWT. untuk menjadi dasar alam ini, dimana terdapat hubungan sebab dan akibat. Telah menjadi sunnatullah yang abadi dimana manusia juga terikat pada sunnatullah itu,  sebagaimana yang terdapat dalam QS. Al-Qamar ayat 49, QS. Al-Ahzab ayat 38, dan Al-Furqan ayat 2). Oleh karena itu beriman kepada takdir memberikan arti dimana kita wajib mempercayai bahwa segala sesuatu yang terjadi di alam ini, dalam kehidupan dan diri manusia adalah menurut hukum berdasarkan suatu undang-undang universil atau kepastian umum atau takdir. Dari sekian banyak ayat Al-Qur’an dipahami bahwa semua makhluk telah ditetapkan takdirnya oleh Allah SWT. Mereka tidak dapat melampaui batas ketetapan itu dan Allah SWT. menuntun dan menunjukkan mereka arah yang seharusnya mereka tuju.

cendikianews.com

syaffiera wiraputri

Some say he’s half man half fish, others say he’s more of a seventy/thirty split. Either way he’s a fishy bastard.

0 komentar: