Politik Luar Negri dari Masa ke Masa

19.16 0 Comments





Orde Lama :

Soekarno (1945-1966)
- Atmosfer revolusi fisik masih terasa. Negara menasionalisasi asset-aset peninggalan colonial dan menyosialisasikan kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Politik luar negeri berciri anti-Barat dan pro-Timur dengan gagasan poros Jakarta-Hanoi-Beijing.
- Pemerintah memilih aktif dalam pembentukan Gerakan Non-Blok.
- Prinsip politik luar negeri bebas aktif dicetuskan Muhammad Hatta di depan Komite Nasional Indonesia Pusat (2/9/1948).
- Konfrontasi dengan Malaysia dengan diumumkannya Dwi Komando Rakyat (Dwikora) pada tanggal 3 Mei 1964. Malaysia dipandang Soekarno sebagai antek neo-kolonialisme dan neo-imperialisme Inggris yang dikhawatirkan mengancam kemerdekaan Indonesia.
- Sebagai ungkapan protes, Indonesia keluar dari keanggotaan PBB (7/1/1965).
- Indonesia membuat kekuatan tandingan Olimpiade dengan menggelar Games of New Emerging Forces (GANEFO). Ganefo I dilangsungkan di Jakarta 10 November 1963, diikuti 2.250 atlet dari 51 negara Asia, Afrika, Amerika Latin, dan Eropa. Ganefo II dijadwalkan di Mesir tahun 1967, tetapi gagal dilaksanakan.
  

Orde Baru :

Soeharto (1966-1998)
- Soeharto memegang tampuk kekuasaan di Indonesia pasca-G30 S. akibat konflik domestic ini, retorika revolusioner melawan Malaysia ikut merdeka.
- Afiliasi politik pemerintah khususnya peran internasional cenderung mendekat ke Negara-negera barat, khususnya Amerika Serikat dan bersikap antikomunisme.
- Politik luar negeri “diabdikan” untuk pemulihan dan pembangunan ekonomi.
- Indonesia kembali menjadi anggota PBB dan tercatat sebagai anggota ke-60 (28/9/1966).
- Normalisasi hubungan dengan Malaysia (11/8/1966) dan membuka hubungan diplomatic pada tingkat Kedutaan Besar (31/8/1967).
- Pengakuan atas Republik Singapura (2/6/1966).
- Pembekuan hubungan dengan China karena dinilai mencampuri urusan dalam negeri Indonesia dalam kasus PKI (1/10/1967). Indonesia menutup Kedutaan Besar di Peking (30/10/1967).
- Memprakarsai berdirinya organisasi Negara-negara Asia Tenggara ASEAN (8/8/1967).
- Terlibat dalam organisasi internasional seperti Consultative Group on Indonesia (CGI) dan Kerja Sama Ekonomi Asia Pasific (APEC).


Reformasi :

Bacharuddin Jusuf Habibie (1998-1999)
- BJ Habibie menerima tampuk kekuasaan dalam transisi politik yang berbelit isu Timor Timur dan hubungan dengan Australia, selain berbagai problem keamanan dan politik dalam negeri. Meski demikian, Habibie berhasil mencegah peningkatan tensi politik dengan Australia dan memilih langkah demokratis dalam penyelesaian isu Timor Timur.
- Menyusul berbagai peristiwa kekerasan kelompok seperatis dan desakan pihak luar, pemerintah mengadakan referendum bagi wargfa Timor Timur. Hasilnya, mayoritas warga Timtim memilih lepas dari NKRI sehingga wilayah ini terlepas dari domain Negara RI.
- Habibie memperoleh simpati dari IMF dan Bank Dunia tersebut  mencairkan program bantuan untuk mengatasi krisis ekonomi Indonesia sebesar 43 miliar dollar AS dan tambahan bantuan sebesar 14 miliar dollar AS.

Abdurrahman Wahid (1999-2001)
- Abdurrahman Wahid berkuasa di tengah tarikan politik aliran nasionalis dan sectarian di MPR. Gus Dur berupaya meletakkan peja jalan baru politik luar negeri Indonesia yang dilandasi martabat dan persahabatan. Namun, tak semua langkah Gus Dur dipahami publik.
- Gus Dur melakukan banyak kunjungan ke luar negeri untuk meningkatkan citra Indonesia di dunia internasional. Selama pemerintahannya, Gus Dur mencatat rekor kunjungan kepala Negara Indonesia ke 50 negara.
- Strategi Gus Dur sebagai “diplomat utama” tersebut dinilai sebagian pihak tidak sesuai dengan “cetak biru” arah kebijakan luar negeri.
- Gus Dur secara konsisten mengangkat isu-isu domestic dalam pertemuannya dengan setiap kepala Negara, termasuk integritas territorial Indonesia seperti dalam kasus Aceh dan Isu perbaikan ekonomi.

Megawati Soekarnoputri (2001-2004)
- Pemerintahan Megawati merintis hubungan yang lebih erat dengan Negara-negara di Asia, termasuk China, Vietnam, dan Laos, untuk membangun stabilitas regional. Megawati juga menjalin hubungan erat dengan Amerika Serikat khususnya pasca peristiwa 11 September di AS.
- Pemerintah lebih memperhatikan peran DPR dalam penentuan kebijakan luar negeri dan diplomasi seperti diamanatkan UUD 1945. Kebijakan luar negeri juga diarahkan memperkuat pemulihan ekonomi dalam negeri, yang berhasil meningkatkan pertumbuhan ekonomi di era ini.
- Megawati melakukan kunjungan kenegaraan, antara lain ke Rusia, Jepang, Malaysia, New York, Romania, Polandia, Hongaria, Banglades, Mongolia, Vietnam, Tunisia, Libya, China, dan Pakistan.

Susilo Bambang Yudhoyono (2004-2014)
- Diplomasi luar negeri membuka Indonesia bagi investasi asing, dengan menjalin berbagai kerja sama dengan banyak Negara, antara lain Jepang, China, dan India.
- Peningkatan upaya penyelesaian masalah perbatasan, seperti dengan Malaysia dan Timor Leste.
- Menegaskan kembali dukungan Indonesia terhadap perjuangan Palestina menjadi Negara merdeka (22/10/2007).
- Indonesia aktif mengikuti berbagai Konferensi Tingkat Tinggi (KTT), dan menjadi tuan rumah KTT ASEAN 2011 dan KTT APEC 2013.
- Akibat kasus penyadapan, pemerintah menarik Dubes RI di Australia dan menghentikan kerja sama militer dan intelijen dengan Australia. (November 2013)



http://winmit.blogdetik.com/files/2008/08/ri-1.jpg

syaffiera wiraputri

Some say he’s half man half fish, others say he’s more of a seventy/thirty split. Either way he’s a fishy bastard.

0 komentar: